
NonStop Reading – artofthestates.org – Kalau Sejarah Punya Sutradara, Nama Depannya Pasti Herodotus! Bayangkan dunia sebelum kamera. Sebelum layar lebar. Sebelum podcast dan TikTok menyampaikan kisah. Tapi tetap saja, manusia ingin tahu apa yang terjadi—dan lebih penting lagi, mengapa itu terjadi. Di sinilah Herodotus masuk, bukan hanya sebagai penulis, tapi sebagai pencerita kelas kakap yang bikin sejarah terasa hidup, deg-degan, bahkan kadang absurd.
Tanpa lighting. Tanpa mikrofon. Tapi detailnya, wow! Bisa bikin kepala manggut-manggut sambil mikir, “Lah, ini orang nulis sambil nyamar jadi wartawan keliling zaman?”
Sejarah Bukan Sekadar Tanggal dan Raja, Tapi Plot Twist
Lahir di Halikarnassus kini bagian dari Turki Herodotus muncul saat dunia masih suka berantem soal siapa yang lebih sakti: Persia atau Yunani. Tapi bukannya pilih kubu, dia malah pilih pena. Daripada ikut perang, ia memilih mencatat siapa saja yang ikut dan mengapa mereka sampai bertempur. Bayangkan reporter perang, tapi 2500 tahun lalu.
Bukan hanya kisah perang yang ia angkat. Ia juga suka nyelipin kebiasaan unik, adat istiadat, bahkan mitos-mitos aneh yang beredar dari mulut ke mulut. Seolah dunia ini adalah satu panggung teater raksasa, dan Herodotus duduk di bangku sutradara.
Kalimatnya Penuh Intrik dan Imajinasi
Tulisan Herodotus tak hanya mencatat. Ia mengajak. Pembacanya diajak menyusuri Mesir, berlayar ke Babilonia, menyelinap ke Persia, bahkan membongkar kisah cinta terlarang di kerajaan. Dengan bahasa yang meledak-ledak, tapi tetap cerdas, Herodotus tahu betul cara bikin sejarah tak terdengar seperti kuliah jam tujuh pagi.
Ia pun tak sungkan menulis peringatan seperti, “Konon katanya…” atau “Beberapa orang bilang…”. Ini bukan kelemahan. Justru di situlah kekuatannya—Herodotus tahu sejarah bukan hanya soal fakta, tapi juga soal siapa yang bercerita.
Melangkah Lewat Cerita, Bukan Cuma Catatan
Sambil keliling dunia kuno, Herodotus tidak hanya menyalin omongan orang. Ia memilih apa yang layak dicatat dan bagaimana menyampaikannya. Dalam Histories, ia tidak hanya menjelaskan sebab-akibat. Ia membangun drama. Ia menyiapkan konflik. Bahkan, ia tak lupa menyisipkan kebijaksanaan dari orang-orang yang ditemuinya.
Di balik semua ceritanya, Herodotus seolah berbisik, “Setiap kejadian besar, selalu diawali oleh keputusan kecil yang tampaknya sepele.” Dari sinilah sejarah jadi sesuatu yang relatable. Dekat. Dan tak jarang, lucu juga.
Kebenaran dan Imajinasi Berjalan Beriringan
Memang, banyak akademisi modern kadang mengkritik Herodotus karena kisahnya terdengar terlalu ‘seru’. Namun justru itu yang bikin tulisannya bertahan ribuan tahun. Ia paham bahwa manusia tak hanya butuh data, tapi juga narasi.
Ia pernah menulis soal semut raksasa di India yang menggali emas. Kedengarannya konyol? Tentu saja. Tapi sekarang, beberapa ilmuwan percaya bahwa ‘semut’ itu bisa jadi marmot liar yang menggali tanah dan secara tak sengaja menyingkap emas. Herodotus memang bukan tukang hoaks—ia hanya menyampaikan seperti yang ia dengar. Dan itulah kekuatan narator: bukan mutlak benar, tapi membawa rasa penasaran.
Gelar ‘Bapak Sejarah’ Datang dengan Risiko
Julukan “Father of History” memang nempel ke Herodotus. Tapi tentu, tak sedikit yang menyebutnya juga sebagai “Bapak Cerita-Cerita Ngadi-ngadi”. Meski begitu, ia tetap jadi rujukan utama kalau kita ingin tahu bagaimana kisah-kisah dunia kuno terbentuk.
Karena ia menulis bukan dari istana, bukan dari menara gading, tapi dari jalanan. Dari pasar. Dari ruang tamu orang asing. Ia percaya bahwa kebenaran tersebar di banyak sudut, dan tugasnya hanyalah merangkainya menjadi satu gulungan cerita yang bisa dibaca siapa saja.
Saat Sejarah Menjadi Teater, Herodotus Menjadi Sutradara
Di dunia Herodotus, raja bisa jatuh karena mimpi, pasukan bisa kalah karena sombong, dan gunung bisa bicara lewat nasib bangsanya. Ia menyusun segalanya seperti sutradara film epik: ada protagonis, antagonis, ledakan konflik, dan kadang, twist yang bikin geleng-geleng kepala.
Ia tidak pernah menuntut untuk dipercaya mentah-mentah. Namun hingga hari ini, banyak dari tulisannya tetap jadi bahan diskusi, jadi referensi, bahkan jadi inspirasi.
Kesimpulan: Herodotus, Sutradara Abadi Sejarah Dunia
Herodotus menunjukkan bahwa sejarah tidak harus membosankan, tidak harus kaku, dan jelas tidak harus monoton. Lewat caranya menulis, ia membuka pintu agar manusia menyukai sejarah bukan karena wajib, tapi karena tertarik.
Bila hari ini film dokumenter bisa menyentuh hati, maka itu karena gaya naratif Herodotus telah memberi cetakan awalnya. Ia bukan hanya mencatat masa lalu, tapi juga menjahitnya agar tetap hidup di masa depan. Jadi, kalau suatu hari sejarah berubah jadi film panjang, jangan lupa siapa yang pertama kali mengarahkan kameranya. Ya, Herodotus sang sutradara abadi di balik panggung masa lalu.